PUASA DAN DETOKSIFIKASI
Puasa sering dianggap sama dengan
melaparkan diri atau sekedar menahan diri untuk tidak makan. Sehingga timbul
pengertian bahwa puasa bias dijadikan suatu cara untuk menurunkan berat badan.
Padahal puasa merupakan proses detoksifikasi (proses pengeluaran zat-zat yang
memiliki sifat toksin atau racun dari dalam tubuh), sedangkan turunya berat
badan hanyalah efek sampinagn dari puasa. Itupun hanya dapat dicapai jika hahehat puasa diterapkan secara benar.
Selama
berabad-abad puasa telah dilakukan manusia sebagai ibadah dalam agama dan
terapi penyembuhan paling tua dalam sejarah pengobatan manusia. Puasa juga
dilakukan oleh para nenek moyang kita untuk mengasah kesaktian dan ketajaman
batin.
Ilmuwan
dan cendikiawan ternama dimasa laluseprti Socrates, Hippocrates, Galen,plato
atau Pythagoras juga melakukan puasa untuk kesehatan dan mempertajam daya piker
mereka. Bahkan dunia pengobatan Barat pun kini banyak menerapkan terapi puasa
sebagai alternative penyembuhan. Mereka akhirnya menyadari bahwa puasa
merupakan marta rantai yang hilang dari pola makan orang barat selama ini.
Dijerman aja misalnya, telah berdiri lebih dari 200 klinik pengobatan yang
menerapkan terapi puasa.
MANFAAT PUASA
Puasa merupakan program kombinasi makanan serasi. Meskipun pola makan ini
sendiri sudah berfungsi detoksifikasi, namun masih bersifat fisik, sedangkan
puasa adalah detoksifikasi yang bersifat total dan holistic.Artinya, tujuan
pembersihan bukan hanya bersifat fisik saja, tetapi juga meliputi pembersihan
dan peningkatan energy pada jiwa dan pikiran.
Banyak cdara puasa yang dapat
dikombinasikan dengan program ini, termasuk puasa 30 atau 40 hari penuh seperti
yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad, Nabi Isa, atau Nabi Musa. Sedangkan berpantangan dari makanan yang
disukai atau makanan tertentu tidak dapat dikategorikan sebagai puasa. Secara
keseluruhan, sekedar berpantangan tidak dapat memberikan nilai tambah pada kesehatan karena yang penting bagi
kesehatan bukanlah jenis atau jumlah makannannya, tetapi pola makannya.
SIAPA PERLU PUASA?
Setiap manusia pada dasarnya memerlukan puasa. Dan
sesungguhnya puasa itu adalah karunia Tuhan untuk kebaikan manusia, karena yang
memperoleh manfaat dari puasa adalah manusia sendiri, bukan Tuhan dan bukan
pula orang lain. Sayangnya , banyak orang yang masih belum bias menghayati
hakikat puasa. Mereka hanya menukar waktu makan atau memutarbalikan pengertian
puasa. Selama berjam-jam puasa mereka memang menahan diri tidak makan dan
minum, namun begitu berbuka mereka mengisi perut secara berlebihan seperti
takut kehabisan makanan. Bahkan ada yang mempergunakan waktu puasa untuk tidur
saja sepanjang hari sampai dekat waktu berbuka. Tidak heran jika mereka tidak
memperoleh manfaat apa-apa dari puasanya, selain tambahan penyakit dan berat
badan.
MENGAPA PERLU PUASA?
Setiap hari kita mandi untuk membersihkan tubuh. Setiap hari
kita juga membersihkan rumah agar lingkungan kita sehat dan segar.Tetapi,
bagaimana dengan kebersihan bagian dalam tubuh kita? Kebanyakan orang memang
lebih peduli pada penampilan luar daripada kebersihan bagian dalam tubuhnya.
Secara alamiah usus besar memang tempatnya kotoran, sehingga wajar saja jika
kita menganggap bagian dalam tubuh tidak harus bersih seratus persen. Namun tahukah
anda bahwa hal ini akan menjadi tidak wajar apabila fungsi pembuangan mulai
tidak mampu mengantisipasi jumlah kotoran yang terbentuk?
Secara alamiah sebenarnya tubuh kita sudah melakukan
detoksifikasi secara teratur, seperti buang air besar ataupun buang air kecil.
Tetapi proses ini adakalanya tidak memadai, terutama jika jumlah toksin yang
terbentuk lebih banyak dari pada yang dapat dikeluarkan. Pembentukan toksin
terjadi melalui beberapacara. Pikiran,
emosi dan stresjuga berpotensi meningkatkan jumlah toksin dalam tubuh. Karena
itu detoksifikasi mental juga penting. Untuk itulah kiranya tubuh kita
memerlukan puasa. Karena hanya dengan berpuasa kita dapat melakukan
detoksifikasi atau pembersihan pada bagian dalam tubuh, baik lahir maupun
batin.
BERAPA LAMA BERPUASA?
Alam telah mengatur system tubuh manusia dengan kemampuan
berpuasa bahwa secara medis klinik-klinik puasa terkemua dieropa sudah
membuktikan bahwa manusia bias bertahan sampai 40hari hanya dengan minum air
putih saja dan sampai 100 hari hanya dengan jus buah-buahan dan sayuran tanpa
bahaya. Berdasarkan pengalaman klinik-klinik tersebut, puasa selama 7 sampai 10
hari telah dibuktikan aman bagi siapa saja. Puasa sepanjang waktu itu ternyata
sangat efektif untuk tujuan pembersihan bagian dalam, regenerasi sel, dan
peremajaan tubuh, asalkan dilakukan secara teratur dan berkala.
Bagi yang belum pernah melakukan puasa, bias mulai berlatih
dengan puasa atau dengan detoksifikasi sedikitnya 2atau 3 hari. Proses puasa
itu sendiri sebenarnya baru dimulai setelah hari ke2 atau ke3 puasa. Pada saat
itu tubuh mulai mencerna sel-sel dan jaringan yang
berlebihan,rusak,berpenyakit,using,atau sudah mati. Namun kunci yang paling
penting dalam berpuasa adalah memperhatikan tata tertibnya, dan melakukannya secara
teratur dan berkala. Tanpa itu, puasa 40 hari pun tidak aka nada manfaatnya
bagi diri kita.
PUASA/DETOKSIFIKASI RINGAN
Puasa ringan ini merupakan
modifikasi dari beberapa metode detoksifikasi yang telah saya terapkan sendiri
ternyata berhasil. Bagi yang belum biasa berpuasa, puasa ini termasuk yang
paling mudah dan ringan karena kita masih tetap makan dan minum walaupun hanya
sebatas buah dan sayuran segar.
Klinik-klinik
detoksifikasi diAmerika dan Australia umumnya juga menerapkan puasa jus buah dan
sayuran (juice fasting), karena dianggap sebagai cara yang paling aman dan
ringan. Jus buah dan sayuran juga lebih mudah dicerna sehingga nutrisinya dapat
lebih cepat diserap oleh tubuh. Nutrisi memperlancar proses detoksifikasi
sekaligus juga mempercepat proses perbaikan sel-sel yang rusak.
Meskipun
anda sudah menjalankan puasa secara agama, tidak ada salahnya menambahnya
dengan puasa atau detoksifikasi secara berkala. Semakin sering berpuasa semakin
baik pula kesehatannya, terutama pada saat tubuh kita sedang berda dalam
kondisi asidosis ( dimana kondisi keasaman tubuh sudah
terlalu tinggi sehingga rentan terhadap penyakit)
.
SERING SAKIT KEPALA
·
ASMA, SINUSITIS MUDAH ALERGI, SERING PILEK, BATU, DAN FLU
·
SERING SAKIT MAAG, KEMBUNG, ATAU SEMBELIT
·
JERAWAT, BISUL , KULIT ASAM,EKSIM DAN PENYAKIT KULIT LAINNYA
·
KEPUTIHAN
·
NAFAS DAN KERINGAT BAU
·
SERING NYERI OTOT DAN PERSENDIAN
·
LESU KRONIS
EFEK SAMPING PUASA/DETOKSIFIKASI
Pembuluh darah merupakan satu-satunya jalan keluar zat racun
ke semua system pembuangan tubuh. Pada saat tosin melewati pembuluh darah,
tubuh akan member reaksi yang disebut krisis detoksifikasi atau krisis
penyembuhan. Efek sampingan ini merupakan reaksi normal dan tidak berbahaya,
yang menandakan bahwa proses detoksifikasi sudah mulai berlangsung.
- Sakit kepala ( gejala ini lebih sering muncul pada pecandu obat,kopi, dan rokok)
- Mual,kembung,sembelit atau sering buang air besar (mirip diare tapi tidak lama )
- Pilek, flu atau demam ringan
- Nyeri pada otot dan persendian
- Gangguan kulit, bagi yang berjerawat, peradangan akan menghebat selama puasa. Tidak perlu cemas, karena gejala ini akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa hari setelah detoks asalkan tidak dipencet atau dikorek-korek
- Gangguan emosi (menggigil seperti orang ketagihan obat,gelisah,cemas, uring-uringan,dan sulit memusatkan pikiran).Gejala ini diakibatkan menurunnya tekanan gula darah, yang merupakan cara alamiah tubuh melakukan penghematan energy selama puasa.sifatnya hanya sementara.
- Kedinginan. Tubuh akan menurunkan temperaturnya selama masa puasa karena energy yang biasa dipakai untuk menghangatkan tubuh akan lebih banyak dipakai untuk mempercepat proses detoksifikasi. Karena itu, orang yang tinggal didaerah bersuhu terlalu dingin atau beku tidak dianjurkan melakukan puasa.
- Perubahan warna air seni, warna menjadi lebih kuning tua menandakan tubuh mulai mengalami dehidrasi atau merupakan indikasi bahwa tubuh mulai mengeluarkan banyak toksin. Selama detoks atau puasa, dianjurkan lebih banyak minum.
- Napas bau disertai timbulnya lapisan putih pada gigi dan lidah yang mengeluarkan bau tak sedap. Lapisan putih pada lidah dapat dikerok dengan sikat gigi.
Karena reaksi detoks mirip gejala
penyakit atau ketagihan, orang sering terkecoh dan minum obat untuk
menghentikan gejala2 yang dirasakannya. Selama krisis detosifikasi berlangsung, sebaiknya
justru tidak minum obat apapun. Obat akan menghambat proses pengeluaran toksin
dari dalam tubuh. Kemampuan obat hanya akan meredam gejala penyakit, tetapi
tidak menghilangkan penyebabnya.
TIPS MENGATASI REAKSI
DETOKSIFIKASI
·
Jangan melakukan aktivitas yang menguras energy
· Jangan berpanas-panas dibawah terik matahari
·
Jangan berpergian terutama dalam cuaca terik
·
Segera berbaring atau tidur ditempat yang lebih sejuk
·
Minum air putih atau jus segar sebanyak-banyaknya. Jangan makan
makanan padat. Kalau tidak ada selera makan juga tidak perlu dapaksakan, tetapi
minum harus tetap banyak
·
Jika sakit yang dirasakan terlalu hebat, sebaiknya batalkan puasa
dan segera periksakan diri kedokter, kemungkinan ada penyakit lain yang tidak
pernah terpantau.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar